Rabu, 09 Maret 2011

Eka, Ciptakan Alat Medik bagi Penderita Stroke

02 Maret 2011 19:00:55
 
Eka Adi Prasetyo, mahasiswa Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan alat bantu medis bagi penderita stroke dalam Tugas Akhirnya (TA). Alat bernama Functional Elektrical Stimulaton System (FESS) tersebut bahkan pernah menjuarai Lomba Cipta Elektronika Nasional (LCEN) bidang biomedik pada tahun 2010 lalu.

Kampus ITS, ITS Online - Dikatakan Eka, FESS juga diangkat dalam tugas akhirnya yang berjudul Desain Pengendali Adaptive Neuro Fuzzy Inference pada Sistem Restorasi Motorik dengan Functional Elektrical Stimulaton Sistem. Eka menyebutkan bahwa pada faktanya para penderita stroke beresiko mengalami deformilitas atau penyusutan otot. “Hal tersebut dapat terjadi jika si penderita tidak terbiasa melatih gerakan ototnya,” ujar mahasiswa yang melakukan penelitian TA di Laboratorium Elektronika Medika ini.

Berlatar alasan itulah, Eka mencoba memberi terapi alternatif penyembuhan bagi para penderita stroke melalui bantuan FESS, yang  ide utamanya berasal dari Dr Achmad Arifin ST MEng, dosen pembimbing tugas akhirnya. “FESS bisa juga dikatakan berfungsi sebagai stimulus eksternal pengganti sinyal otak,” terang Eka. Hal itu lantaran penderita stroke bermasalah dengan saraf-saraf tubuhnya. Akibatnya, perintah dari otak untuk menggerakkan otot pun tidak tersampaikan. “Itulah sebabnya otot menjadi tidak dapat digerakkan,” ujar pria yang mempunyai hobi olahraga futsal ini.

Eka menyebutkan bahwa tujuan utama diciptakannya FESS adalah mencegah terjadinya deformibilitas. FESS sendiri dilengkapi dengan sebuah pengendali otomatis bernama Adaptive Neuro Fuzzy Inferenrence Sistem (ANFIS). “ANFIS berfungsi mengontrol seberapa cepat gerakan yang akan dilakukan otot,” terang mahasiswa angkatan 2006 ini.

Kelebihan ANFIS adalah ia membuat FESS bekerja secara otomatis. Pasalnya, mikrokontroller yang menjadi salah satu penyusun ANFIS mampu menangkap sensor sudut knee joint. “Hal ini secara otomatis akan memberikan sinyal sesuai kebutuhan pasien,”  jelas Eka.

Dari segi cara penggunaan, FESS terbilang mudah dioperasikan yakni hanya dengan menempelkan elektroda ke kaki penderita stroke. Elektroda itulah yang berfungsi sebagai konduktor dan kemudian akan menstimulus otot untuk bergerak. “Waktu pemakaian FESS disarankan tidak lebih dari tiga puluh menit,” imbuh mahasiswa asal Banyuwangi ini. Hal tersebut bertujuan agar otot tidak berkontraksi melebihi batas kemampuannya.

Menurut Eka, penyembuhan stroke tidak hanya dengan mengandalkan FESS. Mahasiswa yang juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Teknik Elektro (Himatektro) itu menyebutkan bahwa FESS hanya berfungsi untuk melatih otot penderita stroke. “Perlu terapi yang lain untuk saraf penderita agar penyembuhannya berjalan paralel,” ujarnya.

Alasannya, jika terapi saraf maupun otot dilakukan bersamaan maka penderita bisa lebih cepat mengalami kesembuhan. Ke depan, Eka berniat melanjutkan penelitiannya tersebut ke tahap klinis. (fi/az)
 
dikutip dari http://its.ac.id/

0 komentar:

Poskan Komentar